Sungai Kapuas: Antara Mitos, Kutukan dan Kenyataan

Oleh; Muhlis Suhaeri

Siapa orang di Indoensia yang tak kenal sungai Kapuas?

Kalau ada yang mengaku tak kenal sungai Kapuas, aku yakin, nilai pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)-nya, pasti jelek. Bukankah, sejak kita sekolah dasar, guru selalu memberi pertanyaan.

Apa nama sungai paling panjang di Indonesia? Jawabnya; sungai Kapuas. Titik.

Ketika itu, bila menyebut nama sungai Kapuas, selalu muncul bayangan, akan suatu petualangan seru. Menyusuri kelok alur sungai. Singgah di perkampungan. Mengamati pola hidup masyarakat, unik dan sahaja. Atau, malah dikejar-kejar penduduk lokal, karena mengintip gadis-gadis kampung sedang mandi.

Ya, bayangan dan fantasi itu muncul, karena aku begitu menikmati tokoh Tom Sawyer karya Mark Twain. Atau, pengembaraan para tokoh di buku Dr Karl May.


Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Sungai itu membentang sepanjang 1086 km dari hulu di Kabupaten Putussibau, hingga Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Sungai Kapuas melewati Kabupaten Sintang, Sekadau, Sanggau, Pontianak dan Kota Pontianak. Lebar alur sungai Kapuas sekitar 70-150 meter, dengan kedalaman puluhan meter. Sungai ini, tidak pernah kering sepanjang tahun.

Semua kehidupan di Kalbar, seolah tak lepas dari aliran airnya. Sungai Kapuas menjadi urat nadi. Tak heran, di sepanjang aliran sungai Kapuas, segala yang berbau kehidupan, bakal muncul. Contoh saja, ketika orang Dayak mendirikan rumah betang (rumah panjang). Mereka akan mendirikan rumah di sepanjang aliran sungai. Tujuannya tak lain, memudahkan berbagai aktifitas kehidupan.

Sungai Kapuas menjadi jalur transportasi pengangkutan barang hingga kini. Bahkan, ketika beberapa wilayah kabupaten belum terhubung jalan raya, alur sungai Kapuas sangat penting peranannya. Orang menggunakan alur sungai Kapuas, untuk mengangkut sembilan kebutuhan pokok, hasil kebun, karet, bahkan manusia. Mereka menggunakan perahu motor bandung.

Ini perahu khas. Lebar 4-6 meter dengan panjang belasan meter. Bagian atas perahu menyerupai rumah. Bunyi mesin perahu menggelegar. Berirama ritmis dan konstan. Dung-dung-dung. Itulah yang membuat perahu ini, dinamakan perahu motor bandung.

Ketika RI konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1963, jalur sungai Kapuas begitu penting. Mobilisasi pasukan dari Pontianak ke sepanjang perbatasan, menggunakan perahu motor bandung.

Hingga kini, sungai Kapuas menjadi tempat berlabuh kapal barang dan penumpang dari luar propinsi. Artinya, sungai Kapuas menjadi pintu utama, keluar dan masuknya barang, dan manusia di Kalimantan Barat. Tak hanya itu, sungai Kapuas menjadi air kehidupan bagi masyarakat Kalbar. Masyarakat menggunakan sungai Kapuas untuk air minum, mandi, mengairi sawah dan kebun.

Sungai Kapuas menghidupi segala bentuk kehidupan masyarakat. Tak bisa dibayangkan, seandainya sungai Kapuas, tiba-tiba menghilang. Segala bentuk kehidupan juga bakal terampas.

Orang tidak bisa lagi mendayung sampan, menjual jasa menyeberangi sungai Kapuas. Anak kecil tak lagi berenang dan mandi, barang dan jasa dari luar atau dalam propinsi terhenti, dan Perusahaan Air Minum (PAM) tidak bisa beroperasi, karena tidak ada pasokan air. Apa jadinya?

Bagi aku, sungai Kapuas punya kenangan sendiri. Ini berhubungan dengan mitos dan kutukan. Ada kepercayaan di masyarakat Kalbar, bila orang sudah minum air sungai Kapuas, mereka akan kembali lagi ke Kalbar.

Ketika mendengar cerita ini, aku senyum-senyum saja. Ah, tahyul, kataku. Bagi orang yang telah mempelajari, dan berkutat dengan filsafat Materialisme, Dialektika, dan Historis (MDH), Karl Mark, cerita seperti itu, tentu aku anggap angin lalu saja.

Lalu, apa hubungan sungai Kapuas dengan aku?

Lima belas tahun silam, aku pernah berkeliaran, selama beberapa bulan di Kalbar. Menyambangi kawan. Bergaul di jalanan. Nongkrong di warung kopi. Minum dan mandi di sungai Kapuas. Begadang di tepian alurnya, sambil menikmati air sungai pasang. Pokoknya, tak bisa dipisahkan dengan aliran sungai Kapuas.

Di balik keterbukaan masyarakat, dan sifat kekeluargaannya, ada aura terpendam dan menyimpan bara. Masyarakat tersekat dalam berbagai isu etnis, agama, dan golongan. Alamnya ekstrem dan panas. Sulit mendapat air bersih, karena tanah gambut, dan kadar zat besinya tinggi. Jalan putus di mana-mana. Listrik selalu mati.

Segala konotasi buruk itulah, yang membuatku kembali ke Jawa. Aku ingat betul, sebelum kapal meninggalkan bibir sungai Kapuas, menuju lautan lepas, aku mengeluarkan sebuah kutukan dalam hati, “Aku tak ingin lagi melihat Kalbar.”

Selama belasan tahun, aku melupakan aliran sungai Kapuas. Aku menjalani rutinitas hidup di Jakarta. Tiba-tiba, ada seorang teman mengajak ke Kalbar. Menulis buku. Aku tercenung. Bayangan dan alur sungai Kapuas, kembali hadir. Sebelum pesawat lepas landas dari Cengkareng, aku seolah mencium bau dan aroma sungai Kapuas. Warna airnya. Kuat arusnya. Bonggol kayu terapung yang memenuhi aliran sungai. Ah, ia terlihat begitu dekat.

Menjelang pesawat mendarat, sebuah pemandangan hadir. Nun jauh di bawah, terlihat garis coklat memanjang. Berkelok-kelok tanpa putus di antara warna hijau pudar. Sepanjang sungai Kapuas, hutan telah gundul. Berbagai cabang anak sungainya, membuat sungai Kapuas seperti naga sedang tidur. Yang meletakkan kaki, sungut, dan kepalanya, untuk rehat.

Begitu mendarat, aku langsung bergumam. “Inilah tanah kutukan.” Aku dikutuk. Termakan mitos sungai Kapuas. Barang siapa telah minum air sungai Kapuas, ia akan kembali lagi.

Nyatanya, kutukan berlanjut. Selama hidup hampir setahun di Kalbar, aku harus memutuskan satu perkara. Yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Pernikahan. Kalimat apa itu? Bagiku, pernikahan adalah “kutukan”.

Bagaimana tidak?

Kita dipaksa memahami istri. Keluarga istri. Ayah, ibu, kakak, adik, paman, bibi, atau sederetan nama lainnya. Memaklumi kemauannya. Kesalahannya. Entah apa lagi. Semua itu, tentu menguras energi. Coba tanya, apa devinisi pernikahan pada seribu orang? Niscaya kita akan mendapat seribu jawaban berbeda. Pernikahan, begitu penuh misteri. Ada sesuatu yang harus kita pelajari, tiada henti.

Karena aku merasa telah dikutuk, aku harus bahagia dengan pernikahan ini. Kalau tidak bahagia, aku hanya membuang waktu saja. Begitulah, pikiranku menyikapi arti pernikahan.

Istriku lahir, besar, kuliah, mencari makan untuk hidup, di kota yang dialiri sungai Kapuas. Dalam daging dan aliran darahnya, mengalir denyut sungai Kapuas. Dia juga menjadi saksi dan memberitakan, segala peristiwa yang pernah terjadi di sepanjang sungai Kapuas.

Ya, begitulah. Faktanya, kehidupanku kini, tak lepas dari denyut sungai Kapuas. Sungai yang pernah kukutuk, dan tidak kupercayai mitosnya.

Kini, aku harus meleburkan diri.
Mencari makna mitos dan kutukan sungai Kapuas, dengan kebahagiaan.
Merangkul dan menikmati, setiap aliran dan arus sungai Kapuas, dengan gelegak energi. Memandang dan menikmati tetes demi tetes reguk airnya.

Meski, aliran sungai itu….
telah mengandung merkuri dan berbagai bahan beracun lainnya……

Foto Lukas B. Wijanarko
  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • Delicious
  • Google Buzz

Pabrik Roti Kapuas Jaya

Malam itu udara yang panas membuat Giok Liem, sopir pabrik roti Kapuas Jaya, memutuskan untuk tidur di dalam mobil boks yang biasa dibawanya untuk mengantar roti. Pelanggannya tersebar mulai dari Toho, Sie Pinyuk, Tunjungan, Mondhoor, Siantar dan sampai ke Pontianak.

Udara di luar ternyata sama panasnya. Karena nggak bisa tidur, Giok Liem duduk sambil mengipasi badannya. Selagi kipas-kipas, matanya menangkap sesuatu yang bergerak-gerak di kaca spion. Benda tersebut keluar dari bawah tower bak air yang terletak di pojok kanan pabrik, dan bergerak menuju ke arah mobil boks.

Setelah dekat, baru Giok Liem dapat melihatnya. Wujudnya ular yang sangat besar tapi pendek dan kepalanya merupakan kepala manusia yang memakai mahkota. Walaupun semua pintu mobil terkunci rapat, Giok Liem ketakutan setengah mati. Ia bersembunyi di bawah jok kursi dan tidak berani bergerak.

Tapi Giok Liem sempat melihat mulut makhluk tersebut menyemburkan api berwarna merah kebiruan. Ia bisa merasakan ular tersebut mengelilingi mobil dan mencoba memasukinya. Setelah sekian lama tak berhasil, ular tersebut pergi. Giok Liem sempat melihat makhluk tersebut kembali ke bawah tower bak air. Dengan sangat ketakutan Giok Liem turun dari mobil dan lari menuju pabrik.

Digedornya pintu kuat-kuat sambil teriak-teriak sehingga Ny. Sun Fong, juru masak pabrik, dengan tergopoh-gopoh membukakan pintu. “Ada apa sih malam-malam begini teriak-teriak?” tanya Ny. Sun Fong. Setelah berhasil menenangkan diri, Giok Liem bercerita.

Mendengar cerita tersebut, Ny. Sun Fong bergumam, “Anak itu lagi….” Giok Liem sempat mendengar gumamannya dan bertanya apa maksudnya. Akhirnya Ny. Sun Fong bercerita kejadian 20 tahun sebelumnya. “Bangunan pabrik roti ini dulunya adalah rumah keluarga Nam Ho dan jaraknya dengan tetangga-tetangga yang lain sangat jauh,” kata Ny. Sun Fong. “Waktu itu nyonya rumah sedang hamil dan mengidam ingin makan ular sawah. Sebenarnya tidak susah menemukan ular sawah di Kalimantan Barat ini. Tapi entah kenapa Pak Nam Ho tidak mau mencarikannya,” lanjutnya.

Ketika tiba waktunya melahirkan, Ny. Sun lah yang membantunya karena memang ia merupakan tetangga paling dekat. Begitu melihat wujud anaknya yang berbadan ular, Ny. Nam Ho tidak mau mengurusi anaknya. Ny. Sun Fong merasa kasihan, jadi ia yang memberinya makan madu dan telur.

Suatu hari Ny. Sun jatuh sakit selama tiga hari. Begitu ia sembuh dan datang ke rumah Ny. Nam Ho, dilihatnya bayi ular tersebut sudah mati karena tak seorangpun yang memberinya makan. “Lalu Pak Nam Ho menyuruhku mengubur mayatnya di bawah pohon besar yang sekarang menjadi tower bak air,” kata Ny. Sun mengakhiri ceritanya.

Takut roh ular tersebut akan muncul lagi dan mengganggu ketenangan pabrik, Ny. Sun mendiskusikan masalah tersebut dengan pemilik dan juga pemuka agama Romo Vanroi. Akhirnya dicapai kata sepakat untuk membaptisnya di Gereja Pantekosta Singkawang pada hari Rabu, saat diadakannya pembaptisan masal.

Ketika saat pembastisan tiba, Ny. Sun duduk di dekat tempat sakramen. Di sebelahnya duduk seorang anak perempuan cantik yang sebelumnya memberinya hormat. Romo Vanroi bertanya kepada Ny. Sun tentang nama yang akan dibaptis. Ia menjawab, “Namanya Sarparini, Romo.”

“Lalu nama baptisnya milih apa?”

“Daniel saja,” jawab Ny. Sun.

“Kalau begitu namanya Daniel Sarparini,” kata Romo Vanroi.

Begitu selesai menyebut nama itu, anak perempuan di sebelah Ny. Sun yang tadinya kelihatan seperti anak yang belum pernah ke gereja, tiba-tiba melakukan sembahyang dengan fasihnya. Keesokan paginya ketika Ny. Sun sedang memasak, tiba-tiba terdengar suara, “Bik Sun Fong, terimakasih atas semuanya. Sekarang aku sudah punya nama, aku akan pergi. Mudah-mudahan aku mendapat tempat di sisi Tuhan. Aku minta maaf kalau selama ini membuat takut orang-orang pabrik.”
Seiring dengan menghilangnya suara, bau dupa dan kayu cendana yang semula tercium cukup kuat, juga ikut menghilang. Dan sejak itu, makhluk berwujud ular dengan kepala manusia tidak pernah lagi muncul di lingkungan pabrik roti Kapuas Jaya.
  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • Delicious
  • Google Buzz

Misteri Ritual Penambangan Emas di Sungai Kapuas

Dulu Sungai Kapuas tak sekeruh seperti sekarang, airnya berwarna hitam bercampur dengan warna akar-akar tumbuhan yang menaungi pinggiran bibirnya. Rona itu berubah setelah maraknya bisnis tambang emas, menghasilkan limbah prestasi pencemaran lingkungan luar biasa hingga merubahnya menjadi berwarna keruh keemasan.
Mendulang emas sudah merupakan tradisi keserakahan manusia yang tak pernah berakhir, dengan argumen mata pencaharian tanpa memperdulikan dampak lingkungan mereka menambang dengan serakah sampai akhirnya mengabaikan keselamatan nyawanya sendiri.
Sumber: http://mistik.reunion.web.id //DILARANG MENYALIN ISI LAMAN INI TANPA SEIZIN PENULIS!
Cerita ini bermula dari petualangan seorang sahabat yang hendak memulai bisnis menjanjikan ini. Di Kalimantan sebuah tambang emas ditemukan dengan sebuah ritual ghaib. Disana rombongan Halidi beserta anak buahnya menyusuri rimba tak bertuan dengan ditemani seorang Paranormal yang sudah terkenal sakti. Selain ancaman binatang buas, mereka juga harus berhadapan dengan suku lokal yang kanibal, orang setempat menyebutnya Dayak Jangkang. Namun bahaya ini tak sebanding dengan nilai harta karun yang mereka percaya ada di lokasi tersebut. Konon kabarnya orang Dayak pun tak berani memasuki lokasi tersebut, terkenal karena keangkerannya karena diselimuti kekuatan mistis yang dahsyat.
Sebelum ditambang, emas tersebut harus dipancing terlebih dahulu karena benda ini sebenarnya memiliki khodam. Emas akan mudah ditarik dari lokasi yang memiliki kekuatan magis yang besar, itu sebabnya mereka memilih lokasi yang tak jauh dari tepian sungai tersebut sebagai tempat ritual. Selain itu sang dukun juga menambahkan di sekitar lokasi itu terdapat benda pusaka yang memiliki kekuatan luar biasa, itulah sebabnya sang dukun berminat untuk disertakan dalam ekspedisi ini.
Di malam ke 3, hajat mereka akhirnya membuahkan hasil. Sang dukun akhirnya berhasil berkomunikasi dengan khodam emas yang dicari-cari. Halidi pun sempat melihat perwujudannya, sesosok bayangan legam menjulang dengan mata memancarkan sinar kemerahan di kegelapan malam.
Pembicaraan antara dukun dan makhluk itu pun berlangsung alot. Awalnya sang makhluk meminta tumbal berupa kepala bayi laki-laki sebagai syarat agar ia mau melepas harta jagaannya itu. Namun persyaratan itu ditolak mentah-mentah oleh sang dukun dengan alasan tidak sesuai dengan prinsipnya. Mendengar alasan sang dukun, makhluk itu pun marah karena ia merasa tidak dihormati dan menantangnya untuk bertarung, sebagai imbalannya ia bersedia memberikan apa yang diinginkan sang dukun. Pertarungan pun terjadi antara mereka,  sang dukun pun melompat tinggi ke atas dahan pepohonan dan melancarkan sebuah serangan seperti pukulan yang memancarkan percikan cahaya kebiruan.
Halidi merasa tidak percaya apa yang dilihat oleh matanya,  lututnya gemetar dan seketika tak dapat menggerakkan tubuhnya yang kurus. Sosok bayangan itu seperti mengerang dengan suara mengerikan, persis suara raungan seekor beruang. Ada bebunyian seperti ranting pohon yang dipatahkan secara paksa diantara pertarungan mereka.
Makhluk itu pun menggeram, seperti hendak melakukan sesuatu. Sang dukun yang siaga dengan segala jurusnya pun mulai melompat menghindari serangan balasan tersebut. Tiba-tiba! Jilatan api muncul dari arah pertarungan mereka, semburan mengerikan itu mengarah kepada tubuh sang dukun yang hendak melarikan diri. Ia sempat berteriak ke arah Halidi. “awaaas!.. Larii.. “ itulah seruan sang dukun kepada Halidi untuk segera menyingkir dari arena pertarungan. Tanpa berfikir panjang, Halidi yang sudah diselimuti rasa takut itu pun berlari kearah perkemahan rombongan yang tak jauh dari lokasi ritual.
Anak buah Halidi melihatnya tiba-tiba muncul dari balik rerimbunan dengan wajah bertanya-tanya.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?…
Halidi pun segera memerintahkan rombongan anak buahnya untuk segera bergegas meninggalkan lokasi tersebut. Sebelumnya sang dukun telah berpesan pada Halidi, jika terjadi apa-apa maka ia harus segera meninggalkan lokasi  tanpa perlu mengkhawatirkan si dukun. Tidak ada jalan pulang menuju desa terdekat selain menyusuri anak sungai dengan perahu lanting (sejenis pondok seperti rumah) yang mereka sewa.
Kabarnya setelah sampai di desa mereka segera bergegas pulang ke kota dan sepakat untuk sementara tidak menceritakan kejadian ini, walaupun akhirnya ia menceritakannya. Keanehan terjadi, setelah pulang ia mendapati sang dukun telah kembali ke rumah dan sedang dirawat karena sakit parah.
Menurut pengakuan sang dukun, ia sendiri berhasil lolos dari pertarungan mautnya dengan khodam penjaga emas. Halidi pun sontak kaget, ketika melihat keadaan sang dukun yang terbaring ringkih, ia mengira sang dukun sudah tewas saat rombongan mereka meninggalkannya di hutan itu. Bagaimana mungkin ia bisa kembali ke rumahnya? Sedangkan jarak antara lokasi – desa – dan  kota teramat jauh, dengan kendaraan saja bisa memakan waktu 8 jam! karena buruknya kondisi jalan. Belum lagi dengan kondisi sang dukun yang buta karena terluka akbat luka bakar yang dideritanya, rasanya tidak mungkin ia bisa kembali.
Kenyataannya sang dukun kembali, dan berangsur pulih dari lukanya. Sejak kejadian itu mereka tidak pernah kembali ke tempat itu, walaupun akhirnya mereka menemukan lokasi lain yang tidak kalah berbahayanya. Konon kabarnya, tempat-tempat penambangan emas tersebut banyak memakan korban.
Cerita ini saya peroleh dari seorang teman yang menceritakan pengalamannya pribadinya, tokoh dalam kisah ini sampai sekarang masih hidup sebagai seorang pebisnis emas yang akhirnya bangkrut saat era reformasi dimulai tahun 1998. Semoga cerita diatas dapat diambil hikmahnya, Salam.
  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • Delicious
  • Google Buzz

Misteri Penemuan Keris Raksasa di Sungai Kapuas, Kalimantan Tengah

Klik untuk memperbesar
Keris Raksasa, Klik untuk memperbesar
KUALA KAPUAS Dua orang penyelam tradisional temukan keris dan kacip raksasa sepanjang 1,5 meter disungai Kapuas, tepatnya di bawah jembatan Pulau Telo, Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas
Warga Kelurahan Murung Keramat, pada Kamis (9/7) lalu, digegerkan dengan penemuan keris dan kacip atau pisau pembelah buah pinang raksasa oleh dua orang penyelam tradisional yakni Wawan (21) dan Yanto (28) warga RT 2 Kelurahan Murung Keramat, sekitar pukul 15.00 wib.
Penemuan itu pun berawal, ketika keduanya sekitar pukul 10.00 wib berangkat melakukan rutinitas sebagai penyelam di sungai Kapuas untuk mencari benda-benda di dasar sungai seperti kayu, besi, dan barang lainnya yang memiliki nilai jual.
Dengan menggunakan perahu kelotok, Wawan dan Yanto mendatangi lokasi penyelaman, dengan menggunakan peralatan penyelaman, seperti kompresor. Ketika itu, Wawan bertugas selaku penyelaman, sedangkan Yanto menjaga perahu dengan mengontrol kompresor sebagai alat bantu pernapasan.
Setelah beberapa jam menyelam, sekitar pukul 15.00 wib, Wawan muncul diatas permukaan sungai dengan membawa sebatang besi yang berbentuk senjata keris. Wawan mengaku terkejut ketika mengetahui benda yang didapatnya itu adalah benda yang berupa senjata keris yang mempunyai tujuh kelokan dengan ukuran yang sangat besar.
Saya terkejut ketika benda yang saya dapatkan setelah diangkat ternyata sebuah keris yang ukurannnya besar sekali. Seumur hidup baru kali ini saja yang melihat keris seukuran raksasa, ujar Wawan ditemui wartawan dikedimannya, Minggu (19/7).
Setelah mendapatkan benda tersebut, mereka berdua tidak langsung pulang, namun mencoba kembali menyelam dengan rasa penasaran bahwa masih terdapat benda lainnya. Dan ternyata benar, Wawan menemukan kembali sebatang besi yang berbentuk kacip atau alat untuk membelah buah pinang, yang juga berukuran raksasa, tak jauh dari lokasi ditemukannya keris.
Penemuannya itu pun kemudian dibawanya pulang kerumah, warga pun lalu berbondong-bondong menyaksikan dari dekat hasil temuan Wawan dan Yanto tersebut. kesempatan itupun tak disia-siakan oleh Wawan dengan membuka kotak amal dirumahnya.
Sementara itu, besi yang berbentuk keris itu memiliki ukiran-ukiran unik di pangkalnya, namun gagang keris tersebut tidak ada. Demikian juga dengan kacip, bagian ujungnya berbentuk menyerupai burung tingang ciri khas Dayak Kalteng.
Menurut wawan, terdapat beberapa kejanggalan ketika para pengunjung ada yang berani menyentuh keris tersebut, tangan mereka seperti kaku ketika menyentuh besi-besi yang diperkirakan telah berumur 300 tahun lamanya. Karena itu, Wawan pun belum berminat untuk menjual keris dan kacip raksasa hasil temuannya itu.

Yang ingin membeli sih banyak, cuma saya tak berniat menjualnya dulu, karena saya belum mendapatkan petunjuk, baik dari mimpi maupun bisikan gaib, katanya. (cbn/Kzone)
sumber : http://kapuascbn981.blogspot.com/2009/07/penyelam-temukan-keris-dan-kacip.html
Bisa Jadi, Berkaitan dengan Sejarah Kerajaan Bataguh
81343largeSebilah keris raksasa ditemukan di Sungai Kapuas, tepatnya di wilayah Kelurahan Pulau Telo, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Kamis, 16 Juli lalu. Kalangan tokoh adat dan ahli sejarah pun membahas penemuan yang tergolong langka tersebut.
Kesimpulan sementara, senjata tradisional khas Indonesia itu berkaitan dengan Kerajaan Bataguh yang diyakini pernah berdiri di Kapuas. Saat itu, Kerajaan Bataguh dipimpin Nyai Undang, ungkap Manli, salah seorang tokoh adat Dayak.
Bentuknya memang bukan senjata khas warga Dayak, Kalimantan Tengah. Diperkirakan, senjata tersebut ikut tenggelam bersama kapal yang bisa jadi menyerang Kerajaan Bataguh. Peperangan itu diperkirakan terjadi sekitar 1400 Masehi. Kerajaan Bataguh mempunyai luasan yang besar di Kapuas, dan Pulau Telo adalah salah satunya, ujar Manli.
Dia menjelaskan, sebelumnya juga pernah ditemukan meriam di Sungai Kapuas dan tidak jauh dari Pulau Telo. Tepatnya di Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat. Temuan tersebut memperkuat analisis sejarah tentang adanya peperangan Kerajaan Bataguh dengan orang asing.
Di ujung keris raksasa yang ditemukan itu terdapat tujuh lubang. Konon, lubang tersebut menunjukkan bahwa keris itu sudah memakan nyawa orang. Seperti halnya senjata khas Dayak mandau, apabila terdapat lubang di ujungnya, itu menandakan bahwa senjata tersebut pernah menghilangkan nyawa seseorang, ujarnya.
Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Kapuas Anggie Ruhan menyatakan hal yang sama. Dia juga menduga adanya kaitan antara keris tersebut dan Kerajaan Bataguh. Kedua benda itu diperkirakan berumur 300 tahun lebih.
Dikatakan, penemu benda itu disebut ketuahan (keberuntungan) dalam bahasa Dayak karena tidak semua orang bisa mendapatkan. Benda tersebut mempunyai daya magis. Penemu merupakan orang terpilih, katanya.
Berkaitan dengan beberapa temuan bersejarah itu, dia menyarankan pembangunan museum di sekitar Kapuas. Dengan begitu, benda-benda bersejarah yang ditemukan bisa tersimpan dengan aman. Beberapa kali usul pembangunan museum telah diajukan, namun hingga kini tak kunjung realisasi, ungkapnya.
Menurut dia, museum berfungsi sebagai pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah. Juga dapat menjadi pusat perkenalan kebudayaan antardaerah dan antarbangsa serta sebagai media pembinaan pendidikan kesenian dan llmu pengetahuan.
Keris raksasa itu ditemukan penyelam tradisional, Wawan, 21, dan temannya, Yanto, 28, di Sungai Kapuas, Kelurahan Pulau Telo, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas. Keris sepanjang 1,3 meter tersebut berada di bawah jembatan Pulau Telo.
Sejauh ini, kata Wawan, belum ada yang menawar keris itu. Dia pun berlum berniat menjual. Banyak warga yang berdatangan untuk melihat-lihat saja, ujar Wawan saat dihubungi Kapos melalui telepon.
  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • Delicious
  • Google Buzz

Puaka di Sungai Kapuas.. Kisah Misteri Penunggu Sungai Kapuas

Sungai Kapuas, sebuah sungai terpanjang di Indonesia yang mungkin orang Indonesia sendiri tidak banyak yang mengenalnya.  Sungai Kapuas membentang dari arah Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu dan bermuara di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat.  Aku punya cerita tentang masa kecilku yang tidak akan aku lupakan tentang misteri ‘penunggu’ atau penjaga di Sungai Kapuas ini.  Ini cerita ketika aku masih duduk dikelas 2 SMP, atau sekitar tahun 1994.
Dari zaman dahulu kala aku sering mendengar mitos adanya “puaka” dan istana jin didasar sungai kapuas.. tapi benarkah itu? Hingga kini aku sendiri tidak tahu kebenarannya.  Puaka adalah sebutan masyarakat setempat yang artinya penunggu atau hantu penunggu, atau identik dengan sesuatu mahluk yang besar dan tinggal sejak lama disuatu wilayah.  Aku tinggal di pinggir sungai kapuas, tepatnya di kelurahan tanjung kapuas kota Sanggau kalimantan Barat.  Waktu itu kegiatan Mandi Cuci Kakus kami lakukan di meting (jamban, kakus) yang terapung dipinggiran sungai.
Aku sangat hobby sekali berenang, setiap mandi sore aku selalu menghabiskan waktu di sungai kapuas ini.  Sungai kapuas adalah sungai yang sangat besar, lebarnya bisa mencapai 600 meter dan dalamnya ketika pasang bisa lebih dari 15 meter.  Sungai ini terlihat tenang namun sebenarnya lumayan deras dan menghanyutkan, sehingga anak2 kecil di kampungku itu sering sekali bermain dengan menghanyutkan diri dari hulu sungai ke hilir sungai.  Menghanyutkan diri maksudnya menaiki pelampung yang terbuat dari ban dalam bekas yang besar, kalo ban dalam motor terlalu kecil hehe..  Istilah dalam bahasa Sanggau dikenal dengan nama “nganyut” artinya menghanyutkan.

Bermain nganyut ini sangat mengasyikkan dan dilakukan beramai-ramai.. karena kalo sendirian gak seru. Caranya cukup dengan membawa sebuah pelampung besar kemudian berjalan melewati tepi sungai ke arah hulu sejauh-jauhnya.  Kemudian setelah mendapatkan tempat yang cukup jauh, kami berenang menuju ketengah –tengah sungai atau sejauh2nya dari tepi sungai.  Arus yang deras tanpa riak membuat kami seolah2 berjalan dengan sendirinya diatas pelampung tersebut, dengan demikian kami bisa sambil menikmati pemandangan ditepi sungai maupun langit.
Setelah sampai dihilir sungai atau jamban tempat pertama kali kami berkumpul, pelampung kami kayuh hingga ketepi dan naik keatas jamban… selanjutnya kami bisa mengulanginya berulang kali sampai puas.
Waktu itu hari sangat cerah, langit2 nampak biru dengan cuaca yang tidak terlalu panas.  Aku pun bertemu dengan teman2 sekampungku untuk sama2 nganyut di sungai kapuas… Tak diduga ternyata yang ikut bermain sangat ramai sekali, kalau tidak salah mungkin sekitar 5-6 pelampung besar, satu pelampung bisa muat untuk 3 orang.
Di tengah sungai, kami dengan riangnya menikmati pemandangan sambil menghanyut oleh aliran sungai.. ada yang cerita2, ada yang bernyanyi, ada yang salto2 dari atas pelampung dan ada yang melamun.  Entah kenapa ada juga beberapa kawan yang ngomong2 kotor dan makian ketika kami ditengah sungai itu… Tiba-tiba, langit menghitam… cuaca yang cerah tiba2 gelap dan angin tiba2 bertiup dengan kencang.. hujan deraspun turun mendadak.  Kala itu aku justru kegirangan dan bertepuk tangan, karena kalo mandi disungai ketika hujan sangatlah asyik rasanya.
Tetapi tawa riang ku tadi mendadak menjadi mencekam, tiba2 sebuah petir besar menyambar kearah yang tidak jauh dari kami… sambarannya nyaris mengenai air tersebut.  Tak ayal lagi formasi pelampung kami pun berantakan karena semua ketakutan, semuanya langsung berenang menuju tepi sungai.  Anehnya, ketika kami sudah sampai ditepi sungai… hujanpun mendadak berhenti, dan tiba2 angin hitam yang tadinya ada sedikit demi sedikit terhapus dan pergi.
Kejadian aneh ini sama sekali tidak kami sadari.. hehe maklum masih anak kecil, belum ngerti dan masih lugu.  Kami pun pulang kerumah masing2 dan kembali janjian untuk bertemu lagi besok.
Besoknya seperti biasa kami berkumpul lagi, kali ini jumlahnya makin banyak.. mungkin sekitar 8-10 pelampung aku tidak ingat.  Dan kali ini kami pun lebih jauh lagi menuju hulu sungai agar makin lama terhanyutnya., belum lagi kami pun makin ketengah dan mungkin lebih ketengah lagi dari hari kemarin.  Seperti biasa, kami menikmati pemandangan dari tengah sungai melalui pelampung yang terhanyut tersebut.  Ada yang nyanyi, ada yang ketawa2, ada yang cerita2, ada yang melamun… itulah aku, aku melamun memandangi seberang sungai sambil bersenandung.
Tiba2 aku melihat ada gelombang yang cukup besar datang dari arah tengah sungai menuju ketepi sungai.  Aku mengira itu adalah gelombang akibat speed boat yang lewat.. dan akupun sama seperti kemarin bertepuk2 tangan gembira.. “woii gelombang woii gelombang!!” kataku kegirangan.. kawan2 pun merasa girang karena kalau ada gelombang akan lebih seru bisa mengayun2 di pelampung.
Tetapi apa yang terjadi ? ketika gelombang yang datang dari jauh itu mendekat, ternyata gelombang tersebut lebih tinggi dari yang kami bayangkan.. besarnya seperti ombak laut.. sekitar satu meter begitu.  Kami pun semuanya terpelanting dan terbawa ke tepi sungai akibat dorongan gelombang besar aneh itu.
Jamban2 yang ada ditepi sungai juga terhempas ketepi akibat gelombang besar itu, ada yang lagi nyuci dijamban juga terjatuh karena sapuan gelombang tersebut.  Apa ya..? kami pun keheranan.. karena tidak ada speed biat yang melintas dan tidak ada hal2 lain yang menyebabkan adanya gelombang di sungai saat itu.  Kemudian datanglah Pak Itam menghampiri kami.. orang tua yang paling disegani dikampungku datang menghampiri kami dan memarahi kami.. “Kalian… puaka marah dengan kalian tahu nggak!! Besok2 jangan lagi main2 ditengah kapuas..!! kalian dengar ?”  kami pun mengangguk dan membubarkan diri.
Setelah kejadian itu aku tak pernah bermain lagi di sungai… Hingga kini kejadian misterius ini masih aneh bagiku.  Mana ada hujan yang sangat lebat mendadak berhenti dan langsung cerah dalam waktu singkat, dan selama bertahun2 aku mandi di sungai baru kali itu aku melihat gelombang sebesar itu yang hampir tidak pernah terjadi di sungai.
Puaka Sungai Kapuas Berbentuk Ular ?
Entah benar entah tidak, menurut cerita yang masih dicari kebenarannya… dikatakan bahwa Sungai Kapuas yang membentang di Kota Sanggau Kapuas memiliki kerajaan di alam ghaib.  Selain itu ada pula Puaka (Mahluk Ghaib) yang menjaga sungai tersebut.
Diceritakan bahwa ada seekor ular besar yang melintang didasar sungai kapuas (di alam ghaib nya).  Dimana ekornya tepat di muara Sungai Sekayam dan kepalanya ada di daerah pancur aji..   Daerah pancur aji ini terletak di tikungan sungai kapuas, apabila air pasang maka akan ada pusaran besar di tikungan tersebut.
Pancur Aji memiliki Air terjun setinggi 7 tingkat, untuk mencapai tingkat teratasnya sangat sulit dan perlu mendaki.. Dulu saya pernah menuju ke tingkat 7 dari air terjun ini, waktu itu saya mendatanginya melewati sungai kapuas dan masuk lewat anak sungai yang kecil di tepi sungai kapuas.  Sekarang ada tempat wisata Pancur Aji di kota Sanggau, namun saya tidak tahu apakah air terjun di tempat wisata ini adalah Pancur Aji yang pernah saya datangi 10 tahun yang lalu.. karena waktu itu saya masuk lewat anak sungai.
Bila diperhatikan dari pengalaman misteri diatas, bahwa ada gelombang mendatar dan mengarah hanya kesebelah tepi sungai.. artinya ada sebuah benda atau mahluk panjang yang mengibaskan tubuhnya secara satu arah sehingga membentuk gelombang aneh itu.. benar gak ya?
Kalau itu gelombang karena speed boat, jelas tidak mungkin.. karena tidak ada speed yang melintas dan tidak mungkin ada speed yang membuat gelombang seaneh itu.  Dan mengapa hanya satu arah? Seharusnya gelombang yang berasal dari tengah sungai akan mengarah dari sisi tepi kiri dan tepi kanan sungai. (lihat gambar).  Sedangkan gelombang yang kami lihat adalah dari seberang sungai ke arah tepi sungai tempat kami menghanyut.



Secara logika jelas ini tidak masuk akal, hmm… saya mencoba menguak kebenaran misteri ini bertahun2 tapi tetap bingung.  Dan ketika saya kembali mengingat puaka yang diceritakan orang2 zaman dulu itu mungkin saja benar.. bisa jadi puaka tersebut mengibaskan ekornya atau membuat gelombang satu arah dengan ekornya.. apa mungkin benar??
Jelas tidak ada bukti yang bisa menguatkan misteri penunggu sungai kapuas di kota Sanggau ini, tetapi misteri ini tetap aku ingat sampai kapanpun.  Kejadian aneh yang membingungkan dan tidak pernah terekspose sebelumnya… masih dicari kebenarannya.
  • Facebook
  • Twitter
  • Digg
  • Delicious
  • Google Buzz
engine: blogger